:: Telpon (0651) 24923 Email min5bna@gmail.com
Info Madrasah
Monday, 26 Sep 2022
  • Selamat Tahun Baru 1444 Hijriah

Kasih Sayang yang Hilang

Thursday, 3 March 2022 Oleh : admin

Guru  sebagai tugas profesional harus bekerja keras dalam mengajar siswa. Tugasnya tidak hanya mengajar tetapi mendidik dan membimbing sehingga anak manusia dapat menjadi manusia yang mengenal Rabnya,  berakhlak mulia  serta berilmu.  Sesuai dengan Undang-Undang no. 20 tahun 2003 Pasal 1 ayat 2 yang berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuanya untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab.

Untuk menunjang tercapainya proses pebelajaran yang optimal  selain tugas guru, peran orang tua dan lingkungan juga sangat penting. Akan tetapi berbeda dengan Ahmad, kesehariannya dia hidup bersama kakek dan nenek yang  kurang mengecap pendidikan. Ahmad adalan seorang anak laki-laki yang semenjak kecil di tinggalkan oleh kedua orang tua  kerena Tsunami.  Semenjak saat itu semua pengharapannya hannya tertumpu pada kakek dan neneknya. Kakek yang berpenghasilan tidak tetap tidak mampu membiayai keperluan Ahmad, walaupun demikian kakek dan nenek sangat sayang padanya. Akibat kekurangan  ekonomi dan kasih sayang dari kedua orang tua kandungnya dia sering merasa minder dan butuh perhatian. Kakek yang sudah tua selalu mencurahkan kasih sayang padanya walaupun sebatas kemampunnya. Kurangnya kasih sayang dari kedua orang tua kandungnya membuat dia ingin selalu diperhatikan baik dirumah maupun di Madrasah. Sebab itulah yang membuat Ahmad merasa kurang pada dirinya. Ahmad sering bolos sekolah dan belajar tidak pernah konsentrasi, bahkan sering mengeluarkan kata kotor dari mulutnya.

Kakek yang perhatian padanya sesekali datang kesekolah dengan sepeda ontelnya yang sudah tua terkadang pagi untuk mengantar sarapan atau jajan. Tak elak siangpun  dijemputnya. Nampak dari raut wajah sang kakek kelelahan yang dia rasakan. Mungkin pengaruh dari lelelahan serta usianya yang sudah menua dengan memakai sandal jepit dan bajunya yang lusuh. Menurut wali kelas Ahmad sebelumnya dia hannya patuh pada kakek sedangkan yang lain tidak diacuhkan.

Ahmad pernah tinggal kelas sebab belum mampu baca tulis, dengan postur tubuhnya yang semakin besar membuat dia berbeda dengan teman satu kelasnya. Mungkin ini juga salah satu yang membuat dia kurang percaya diri. Walaupun guru kelas sudah coba untuk membimbing  tapi sampai ketahap selanjutnya dia  masih berprilaku sama. Ahmad kurang konsentrasi saat belajar dan sering mengeluarkan kata-kata kotor dengan sesama teman. Akibat ulahnya dia sering dipanggil oleh guru kelas untuk dibina dan dia juga menjadi terkenal dengan sikapnya.

Ahmad lebih merasa terpukul ketika kakeknya yang selalu perhatian dan orang yang paling dia sayangi meninggal dunia saat di kelas lima, prilakunya bertambah menjadi, sebelumnya tidak pernah merokok, dia sudah mulai mengisap rokok dan sering bolos sekolah serta berkumpul dengan teman yang seumuran di Dangau (gubuk yang berada di tengah sawah). Sampai kejadian ini terus berlanjut dan  Ahmad naik kelas enam dan bertemu dengan bu Dina.

Bu Dina adalah wali kelas enam dikelas yang sedang ia duduk. Sosok bu Dina, selalu mecari tahu karakter siswanya saat siswanya sudah masuk dikelas asuhannya, sehingga bu Dina telah mempelajari beberapa karakter siswa barunya melalui guru sebelumnya.  Salah satu siswa yang menjadi perhatiannya  adalah Ahmad. Disaat pertemuan dengan bu Dina, dia sepertinya  merasa  canggung, entah apa yang dia pikirkan dengan sosok bu Dina.

Hari terus berganti Ahmad tidak bisa meninggalkan kebiasaanya  bolos dan merokok dan tidak bisa mengontrol emosinya bila ada selisih paham dengan temannya.  Sudah satu minggu Ahmad dikelas enam hari ketiga dia bolos,  baru ketika hari senin dia masuk kembali. Disaat itu dia dipanggil oleh bu Dina untuk dibimbing dan diberi nasehat, ternyata dia beralasan tidak memiliki uang jajan,  bu Dina akhirnya bersedia memberi jajan pada Ahmad bila dia tidak ada jajan. Masalahnya tidak berakhir disitu ternyata kebiasaanya  suka nongkrong bersama teman di Dangau tidak bisa ditinggalkan. Bu Diana pernah menasehatinya agar dia membuang kebiasaanya itu, kemudian bersedia membimbing  membaca dan mengerjakan tugas sekolah.  Ahmad telah melanggar janjinya maka bu Dina  langsung menemuinya  disaat jam sekolah di gubuk tongkronganya. Sebelum bu Dina ketempat tongkrong terlebih dahulu beliau menemui neneknya yang keseharian bekerja sebagai tukang cuci baju. Kemudian berkomunikasi dengan neneknya, rupanya Ahmad sering juga membantah neneknya sehingga beliau kecewa dengan sikapnya dan meminta bu Dina terus membimbing Ahmad. Akhirnya nenek menunjukkan gubuk tempat tongkrongannya yang  terletak tepat di tengah persawahan dan tidak jauh dari rumahnya, ternyata didapati beberapa anak seusia  Ahmad yang duduk di bangku SMP juga ada.  Mereka sedang mengadu ayam, melihat kejadian ini bu Dina langsung mendekati kelompok remaja itu. Ketika Ahmad melihat bu Dina langsung lari dari tempat adu ayam itu.

Beberapa hari Ahmad tidak datang lagi ke Madrasah, jadi bu Dina dengan di dampingi salah seorang teman mendatangi lagi rumah Ahmad tepat pukul 09.00 wib. Ahmad yang saat itu masih ditempat tidur mungkin kaget mendengar suara  bu Dina yang memberi salam ketika masuk kedalam rumahnya. Saat itu bu Dina disambut oleh neneknya. Ahmad beberapa kali dipanggil oleh neneknya enggan keluar dari kamar, mungkin karena malu. Karena sudah satu jam Ahmad tidak keluar Bu Dina mengeluarkan kata “ kalau Ahmad tidak keluar dari kamar, ibu akan terus tinggal disini menunggu Ahmad keluar!”. Ternyata gertakan bu Dina telah menggoyahkan prinsipnya, Ahmad keluar dengan wajah kusam dengan rambut acak-acakan. Disaat itu  air matanya mengalir dan merasa malu serta meminta maaf pada bu Dina atas sikapnya. Kembali bu Dina menasehati Ahmad untuk tidak mengulang kembali perbuatannya. Dia berjanji akan masuk sekolah dengan disiplin dan segala keperluannya untuk disampaikan pada bu Dina.

Sejak saat itu setiap pulang sekolah Ahmad dibimbing oleh bu Dina dalam membaca, menulis dan mengerjakan tugas yang belum selesai.  Ahmad sudah banyak berubah dan dia dapat mengikuti Ujian Nasional dengan baik dan lulus.

Kasih sayang merupakan hal yang mutlak  yang muncul pada naluri manusia yang tidak bisa dibohongi. Ketika kasih sayang itu hilang maka akan muncul keangkaramurkaan. Ahmad yang dari kecil sudah kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya, kemudian diasuh oleh kakek dan neneknya. Disaat dia membutuhkan kasih sayang kakek yang dia banggakan juga pergi menghadap Ilahi. Kandaslah jiwanya seperti buih dilautan sirna tak berbekas.  Semoga nantinya kamu akan mengenal arti kasih sayang yang sebenarnya nak!

Ini adalah kisah inspiratif terjadi sebelum covid datang ke Aceh, Nama yang di pakai adalah nama samaran. Alhamdulillah ananda Ahmad sudah melanjutkan sekolah lanjutan di STM.  Dan sekarang kabarnya dia sudah menjadi seorang pedagang.

Profil Penulis

Mardiana lahir di Banda Aceh, 25 Juni 1980, Beliau dibesarkan dalam keluarga besar yang terdiri dari enam bersaudara dan merupakan anak terakhir. Ayahnya bernama Abdul Kadir dan ibunya bernama Hindun keduanya telah menghadap sang Khalik. Beliau adalah seorang guru yang mengajar di MIN 5 Kota Banda Aceh. Pada tahun 2009 beliau di persuting oleh Teuku Yusrizal yang merupakan seorang pemuda dari Padang Tiji, Sigli dan memiliki seorang anak yang bernama T.M. Yoh  adefa Ahdian. Keseharianya selain mengajar beliau juga aktif dalam grup Gure Merunoe Aceh dan beberapa organisasi lainnya secara virtual. Alhamdulilah! selama aktif dalam dunia menulis beliau sudah bisa lahirkan karya bersama dengan teman-teman.

No Comments

Tinggalkan Komentar